Halloween, yang awalnya identik dengan kostum seram, permen, dan dekorasi spooky, kini menjadi salah satu perayaan populer di Korea Selatan. Terutama di kawasan ramai seperti Itaewon, Hongdae, dan Gangnam, Seoul, Halloween menarik ribuan orang muda, ekspatriat, dan turis internasional setiap tahunnya. Orang-orang datang untuk bersenang-senang, berfoto, berpesta di klub atau bar, dan membuat konten media sosial.
Sejarah dan Budaya Halloween di Korea

Source Image: Pixabay.com
Berbeda dengan tradisi Amerika Serikat yang kental dengan trick-or-treat, Halloween di Korea lebih menekankan pada kostum kreatif, acara komunitas, dan hiburan jalanan. Banyak universitas, sekolah bahasa, dan pusat komunitas mengadakan kompetisi kostum, festival, atau bazar Halloween.
Namun, Halloween di Korea bukan hanya soal keseruan. Seiring meningkatnya popularitas perayaan ini, muncul tantangan keselamatan publik, terutama di daerah dengan kerumunan besar.
Tragedi Itaewon 2022

Source Image: REUTERS/YONHAP
Momen ini menjadi titik balik. Pada malam 29 Oktober 2022, kawasan Itaewon dipenuhi ribuan orang yang merayakan Halloween. Kerumunan besar tidak terkendali, dan sayangnya, tragedi terjadi yang menewaskan 159 orang dan melukai ratusan lainnya. Peristiwa ini mengguncang dunia dan mengubah cara masyarakat Korea memandang perayaan publik.
Sejak itu, Halloween di Korea menjadi lebih reflektif dan terkendali. Pemerintah memberlakukan pembatasan jumlah pengunjung di area ramai, peningkatan patroli polisi, dan kampanye keselamatan publik. Banyak orang kini lebih memilih menghadiri peringatan, menyalakan lilin, atau berkumpul dalam komunitas kecil daripada pesta besar di jalanan.
Halloween 2025: Refleksi dan Kesadaran

Source image: www.koreaherald.com
Pada 29 Oktober 2025 pukul 10.29 pagi, Pemerintah Korea Selatan menggelar upacara peringatan tragedi Itaewon yang diinisiasi oleh Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan bersama Komite Warga Penanggulangan Bencana Itaewon, Asosiasi Keluarga Korban, dan Pemerintah Kota Seoul. Upacara dimulai dengan mengheningkan cipta selama satu menit dan bunyi sirene peringatan sebagai bentuk penghormatan bagi para korban, serta pengingat nasional agar tragedi serupa tak kembali terjadi.
Perayaan Halloween di Korea kini menjadi simbol perubahan budaya. Masyarakat tetap merayakan dengan kostum dan dekorasi, tetapi vibes-nya lebih terkontrol, aman, dan reflektif. Banyak orang memilih menghormati korban dengan doa, lilin, atau bunga, menjadikan Halloween tidak hanya hiburan tapi juga momen kesadaran sosial.

Source Image: Pixabay.com
Halloween di Korea adalah gabungan antara hiburan modern, kreativitas kostum, dan kesadaran sosial. Dari tragedi Itaewon, chingu bisa belajar tentang pentingnya keselamatan, empati, dan menghargai budaya.
Dan melalui program Korean Language Course dari Namsan Course, chingu tidak hanya belajar bahasa, tapi juga belajar memahami konteks sosial, sejarah, dan budaya Korea. Karena bagi Namsan Course, belajar Korea berarti belajar dari semua sisi — bahasa, budaya, dan hati.
Chingu, kalau ingin benar-benar memahami Korea, tidak cukup hanya belajar bahasa. Perlu juga memahami budaya, nilai sosial, dan cara masyarakat merespons tragedi atau peristiwa penting.
Di sinilah program Korean Language Course (KLC) melalui Namsan Course – Korea Education Consultant hadir. Lewat program ini, chingu bisa:
-
Belajar bahasa Korea secara intensif dari dasar hingga mahir.
-
Mengenal budaya, tradisi, dan etika sosial Korea secara kontekstual.
-
Mendiskusikan isu-isu aktual, termasuk tragedi Itaewon, festival, dan perayaan publik, sehingga siap menghadapi kehidupan sehari-hari di Korea.
Dengan pendekatan ini, belajar bahasa bukan hanya soal grammar dan vocabulary, tapi juga memahami hati dan budaya Korea, membuat chingu lebih siap beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Chingudeul bisa cek informasi lebih detail mengenai program KLC di sini
Atau langsung konsultasi bersama kami:
Email: namsankoreancourse@outlook.com
Whatsapp: 0815-13-555-100